This WordPress.com site is the bee's knees

Monthly Archives: Februari 2013

Aku pengen cerita, tapi bukan tentang SHINee, juga TVXQ dan Pramuka. Ya, tentang pribadi. Tumben sekali, kan? Ah gpp deh~

Kemarin malam ketika aku sedang berkicau ria [maen twitter], tiba-tiba saja ke-kepo-anku muncul. Aku ingin men-stalk akun facebook mantanku *ehem*. Padahal udah berapa bulan ini aku ngga stalking dia, mungkin sekitar 4 bulan? aku ngga nyapa-nyapa dia. Ngga tau tuh tiba-tiba pengen aja.

Aku login akun facebookku. Karena akunku tidak berteman dengan dia, jadi aku tidak terlalu bisa melihat timeline dia. Lalu aku stalk akun fb pacarnya, *akunku berteman dgn pacarnya*, ada satu wall yg mantanku kirim ke pacarnya, sebenarnya wallnya biasa saja namun entah kenapa ada perasaan sedikit ‘yaaah’ gitu… Aku pikir ah wajar ya, kayanya temen-temenku juga gitu kalo lagi kaya gini. Hahahaa.

Ada 1 status dia *simantan* yang panjang banget dan itu ditujuin buat pacarnya. Hemm oke aku manggut-manggut. Isinya sih biasa ya tentang perasaan dia, namanya juga pacaran.

Oia aku dan mantanku itu temen dari kecil terus pernah pacaran, abis putus kita mah ngga yang bubar aja jadi sombong-sombongan gitu, malah jadi sahabatan lagi. Dan kalian tau siapa yang mutusin? Dia! jreng jreenng.. iya, dia yang mutusin aku. Hahahaa. Bagi sebagian cewe mungkin ngga suka ya di putusin cowonya, tapi entah kenapa aku malah bangga, soalnya itu jadi salah satu indikator kalo aku orang yang setia *cieee*.

Balik lagi ke cerita awal.

Jadi yang aku rasain setelah menstalk dia tuh kaya yang ‘okeeyy’, antara ngga rela tapi seneng. Seneng lah soalnya aku mah pengen temen-temenku bahagia. Tapi sebel juga soalnya dia jarang cerita tentang kebahagiaan dia. Dia mah cerita tuh kalo lagi ada masalah sama cewenya aja, masalah sama keluarganya, kerjaannya. Kadang sampe bosen, soalnya masalahnya itu-itu aja. Entahlah. Yaa aku sih dengerin aja, seneng soalnya dia percaya sama aku, sering buka rahasia dia ke aku.

Apa kalian mikir aku masih ngarepin dia? No, no, no…. aku juga udah punya lagi kok. Bahkan yang ini orangnya sabar banget. Dia mau nunggu sampe aku bener-bener bisa buka hati. Buka hati? emang sampe sekarang hati aku kenapa? Yaa, jadi tuh aku belum pengen pacaran.. entahlah kenapa. Walaupun di luar aku kaya cewe tangguh, pemberani tapi dalam hal ini aku cemeennn, pengecut.. aslinya… Hadeuuhh…

Udahlah take it slow aja.. Everything has each time. 🙂

Iklan

Kali ini aku ingin bercerita kejadian 8 tahun yang lalu, lebih tepatnya di tahun 2005. Ketika itu aku sudah menjadi anggota Pramuka golongan Penggalang Ramu Pasukan Siti Aisyah dari Pangkalan MTsN Babakan Cirebon *wuihh lengkap bener* :p

Kala itu hari jum’at, pukul 11.00 WIB pelajaran hari itu pun usai. Teman-temanku yang laki-laki langsung menuju masjid untuk sholat jumat. Seperti biasa aku mampir dulu ke sanggar Pramuka, ternyata disana sudah ada beberapa teman. Ada yang sedang dengerin radio, masak mie, beres-beres sanggar. Setelah sholat jum’at selesai, giliran yang perempuan sholat dhuhur. Nah, beres itu tuh kakak-kakak kelas pada nyuruh kita kumpul, dan ternyata ada purnawarga (alumni) juga. Ada apa ya? o_O

Dan.. jreng jreng..!! Kak Yudi, salah satu purnawarga menugaskan kami.

“Mohon perhatiannya! Besok kita akan berkemah dan melakukan perjalanan untuk tahapan ke tingkat selanjutnya, yaitu penggalang Rakit. Ini daftar persyaratan yang harus kalian bawa” jelas kak Yudi panjang lebar.

Kaget banget doonnkk…. besok kemah? Ngedadak banget? Mana daftarnya lumayan banyak lagi. Masih inget aja tuh ada beras, kacang ijo, gula merah, telur, tolak angin, bunga, singkong, tongkat, tambang, dll laaahh bejibun.

“Besok bada ashar pukul 16.00 kita kumpul disini!” lanjut kak Yudi.

Kami pun bubar. Dan langsung saja aku dan teman seangkatan berkumpul mendiskusikannya. Daripada kami harus mencari masing-masing persyaratan, kami lebih memilih cara kolektif. Ada yang kebagian mencari singkong, ada yang kebagian mencari gula merah, dll. Kami benar-benar kompak, padahal saat itu kalo dipikir-pikir usia kami baru menginjak  14 tahun bahkan ada yang 13 tahun. Kalo sekarang mungkin di usia segitu banyak komplain dan banyak ketakutannya.

Akhirnya hari itu tiba. Namun sayang 2 temanku Adam dan Fazri tidak bisa ikut, mereka tidak diberi izin oleh orang tuanya.

Pukul 17.00 kami pun berangkat dengan berjalan kaki, dipandu oleh kakak-kakak kelas kami. Kami terus berjalan kaki, berjalan berjalan dan berjalan. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat, menunaikan ibadah sholat dan makan. Hari sudah malam, namun kami terus saja berjalan kaki sambil menggendong ransel yang berat dan juga memegang sebuah tongkat. Aaaaa… mau di bawa kemana sih? Capeeee….. Tapi sayang kami tidak di beritahu.

Akhirnya aku sampai di sebuah desa yang namanya tidak asing tapi belum pernah ku kunjungi. Gilaa!! Jauh bener aku jalan kaki *geleng2kepala* ngga nyangka sampe sejauh ini. Nah disitu kami di ‘gembleng’ dan di beri bimbingan mental ‘bintal’. Bermacam-macam aku diberi pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar membuatku menjadi patung. Takut. Bibirku sulit sekali mengeluarkan suara.

Setelah itu kami di tugaskan untuk melewati kebun tebu yang sangat gelap, mana jalannya semak-semak lagi banyak rumput panjang. Udah gitu jalannya cuma berdua! :O ngga bareng-bareng sama yang lain. Ngga ada penerangan kecuali senter yang kami pegang.

Okeh! Aku bisa! Jangan takut sama yang macem-macem, kan ada Allah.

Sumpah itu perjalanan yang uuhhh menyeramkan! Kalo dipikir-pikir ngapain coba tengah malam jalan lewat situ dan tujuannya ngga jelas? Seperti pembodohan. Tapi sekarang setelah dipikirkan kembali ada manfaatnya juga, aku jadi ngga penakut. Jadi berani dan percaya Allah selalu ngelindungin aku.

Setelah sampai di pos pemberhentian. Akhirnya kami di tugaskan untuk berjalan (kali ini medannya lebih baik, tanah bebatuan). Tapi tidak lagi berpasangan, melainkan sendiri-sendiri!

Sepanjang perjalanan aku terus-terusan berdizikir. Ternyata aku melewati kuburan dan balai desa yang sudah tidak dipakai, dan ‘katanya’ di situ angker. Tapi sudahlah! Jangan berpikir yang macam-macam. Aku pun terus berjalan di kegelapan dan akhirnya menemukan sinyal cahaya sandi morse. Aku menuju ke arah sinar itu, lapangan sepak bola. Dan beberapa temanku sudah ada disitu.

“Wahh Mila udah nyampe, selamet juga ternyata. Hehe, sok istirahat dulu sambil nunggu yang lain sampai”, kata kak Yudi.

“Iya kak,” jawabku. Langsung saja aku meluruskan kaki yang sudah seperti tidak ada tulang. Lelah.

“Adik-adik, kakak mau ke pos sebelumnya, kalian diam disini ya.”

‘Ya kaaa… hati-hati”, jawab kami.

Nah, karena disitu tidak ada kakak kelas. Aku pun berinisiatif, “Eh, tidur aja yuk! Lumayan.. ngantuk banget tau..”. Blek, akupun tidur dengan hanya beralaskan rumput beratapkan langit yang bintangnya wow indah! Zzzzzzz.

Dan ternyata teman-temanku ikutan tidur! Sampai membuat kakak-kakak khawatir karena di tempat kami tidak ada cahaya ataupun orang. Ya karena kami tidur, jadi kan kalo dari kejauhan ngga keliatan ada orang. Hahahaa, ini aku ketahui ketika keesokan harinya. :p

Pukul 03.00 subuh kami melajutkan perjalanan, akhirnya aku tahu mau di bawa kemana kami. Jamberacak, salah satu bukit semi hutan yang ada di daerah itu.

Alhamdulillah… akhirnya sampai. Sesampainya disana aku merasakan kesejukan airnya. Asli dari gunung. Dan akupun mendapat hal baru, memasak telur rebus dengan di bakar. Telurnya di balut tanah liat sampai cukup tebal, kemudian di bakar deh! Masak nasinya juga sama, pakai bambu, bagian dalamnya dibersihkan kemudian masukkan beras dan air (saat itu kami menggunakan santan). Sumpal lubangnya dengan lempung (tanah liat), bakar deh! Hemm.. nikmatnya memasak dan makan di alam.

Setelah itu kami sharing materi dan kegiatan, lalu diadakan upacara pengukuhan. Huraayy!! Sekarang aku penggalang rakit! 😀

Sampai sekarang aku masih ingat pengalaman-pengalamanku di Pramuka. Dari banyak kegiatan yang mendadak dan menguras mental itulah akhirnya karakterku terbentuk agar siap tanggap dan cepat dalam berpikir, pemberani dan kuat mental, dan tentunya selalu yakin ada Allah yang bersamaku.
Itulah salah satu ceritaku di Pramuka. Tetap memandu dan salam Pramuka! ^^7

DSC03090

Meskipun kini kami sudah berada di jalan masing-masing, namun persahabatan kami tetap abadi. My lovely Scout Community 🙂


Pertama kali liat trailer hasduk berpola, rasanya bangga sekali, organisasi yang sejak kecil saya ikuti hingga sekarang di angkat menjadi sebuah film. Padahal kan jarang sekali ada film yang mengangkat hal-hal berbau organisasi. Mungkin karena ini PRAMUKA, jadi ya eksklusif! Tapi ada terharunya juga sih pas liat trailernya, terharu sama perjuangan anak Pramuka di film itu.
Oia saya jelasin deh gimana kira-kira nanti filmnya.

Jadi film ini bercerita tentang Masnun, veteran mantan pejuang ’45 yang tinggal di Surabaya, yang konon terkenal sebagai kota pahlawan, hidup Masnun (yang sering dielu-elukan sebagai pahlawan) justru terlunta-lunta. Akhirnya bersama anaknya, Rahayu, janda beranak Budi dan Bening khirnya menyerah dan pindah ke kota asalnya, Bojonegoro untuk mencari kehiduan yang lebih baik. Namun ternyata kehidupan mereka justru semakin terpuruk.

Cucunya bernama Budi (12 thn), tertantang untuk mengalahkan rivalnya, Kemal, yang aktif di kegiatan Pramuka. Maka ia juga berusaha untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, Budi tidak bisa membeli semua perlengkapan kepramukaan. Film ini menceritakan bagaimana Budi berjuang memenuhi kewajibannya, hingga akhirnya membuat iba Bening (10 thn) adiknya yang rela mengorbankan seprei kesayangannya demi dibuat hasduk untuk kakaknya.

Ketika melihat trailernya, pandangan saya menjadi terbuka. Mungkin sebenarnya banyak yang ingin mengikuti kegiatan Pramuka secara aktif tetapi karena terbentur biaya yang macam-macam, akhirnya anak-anak yang semulanya berminat perlahan-lahan menjadi enggan mengikutinya. Walaupun sebenarnya ikut Pramuka tidaklah sampai harus keluar banyak biaya.

Berbicara tentang Pramuka, saya teringat perkataan teman-teman yang sering menggoda saya. “Udah kuliah masih ikut Pramuka?!”, “Ciee iya deh yang Pramuka”, “Kenapa sih udah sebesar ini masih ikut Pramuka? Keluarga kamu orang-orang Pramuka ya?”. Dan masih banyak lagi perkataan-perkataan teman-teman saya, namun saya sih enjoy-enjoy aja, itu kan bukti perhatian mereka pada saya J
Suatu hari ketika open rekruitmen kepengurusan Racana Pramuka dikampus, saya ditanya seperti ini.

“kenapa sih kok ikut Pramuka?”, tanya kakak kelas.

“Ingin balas dendam!” , jawab saya. Sontak saja membuat kakak itu dan beberapa orang di sekitar kami menjadi kaget.

“balas dedam sama siapa?”, lanjut kakak tersebut.

“Jadi gini kak, waktu saya masih SD saya ingiiiin sekali ikut Pramuka, latihan setiap minggu, berkemah, main ini main itu. Tapi orang tua saya melarang saya, mungkin karena khwatir atau apalah saya ngga ngerti. Akhirnya pas saya masuk Tsanawiyah (MTsN) saya bertekad harus ikut ekskul Pramuka! Alhamdulillah orang tua saya mengizinkan. Saya ingin balas dendam pada diri saya sendiri karena keinginan saya semasa SD tidak tercapai. Eh, ngga taunya sampe keterusan. Di SMA saya bergabung di Ambalan dan sekarang saya ingin bergabung di Racana kampus”, jelas saya panjang lebar.

“Hahhaa.. ternyata ada ya balas dendam yang positif”, timpal kakak tersebut.

Alasan sepele itulah yang membuat saya ingin terus mencari ilmu di Pramuka. Alasan sepele itu membuahkan alasan-alasan lain yang membuat saya ingin tetap aktif di Pramuka.

Okeh, sampe disini dulu tulisan saya. Oia, film ini recomended banget! Hasduk Berpola bakal tayang di bioskop mulai tanggal 21 Maret 2013. So, tonton ya guys! ^^

Gambar

Tetap memandu, salam Pramuka! ^^7

photo credit: @HasdukBerpola