Kali ini aku ingin bercerita kejadian 8 tahun yang lalu, lebih tepatnya di tahun 2005. Ketika itu aku sudah menjadi anggota Pramuka golongan Penggalang Ramu Pasukan Siti Aisyah dari Pangkalan MTsN Babakan Cirebon *wuihh lengkap bener* :p

Kala itu hari jum’at, pukul 11.00 WIB pelajaran hari itu pun usai. Teman-temanku yang laki-laki langsung menuju masjid untuk sholat jumat. Seperti biasa aku mampir dulu ke sanggar Pramuka, ternyata disana sudah ada beberapa teman. Ada yang sedang dengerin radio, masak mie, beres-beres sanggar. Setelah sholat jum’at selesai, giliran yang perempuan sholat dhuhur. Nah, beres itu tuh kakak-kakak kelas pada nyuruh kita kumpul, dan ternyata ada purnawarga (alumni) juga. Ada apa ya?o_O

Dan.. jreng jreng..!! Kak Yudi, salah satu purnawarga menugaskan kami.

“Mohon perhatiannya! Besok kita akan berkemah dan melakukan perjalanan untuk tahapan ke tingkat selanjutnya, yaitu penggalang Rakit. Ini daftar persyaratan yang harus kalian bawa” jelas kak Yudi panjang lebar.

Kaget banget doonnkk…. besok kemah? Ngedadak banget? Mana daftarnya lumayan banyak lagi. Masih inget aja tuh ada beras, kacang ijo, gula merah, telur, tolak angin, bunga, singkong, tongkat, tambang, dll laaahh bejibun.

“Besok bada ashar pukul 16.00 kita kumpul disini!” lanjut kak Yudi.

Kami pun bubar. Dan langsung saja aku dan teman seangkatan berkumpul mendiskusikannya. Daripada kami harus mencari masing-masing persyaratan, kami lebih memilih cara kolektif. Ada yang kebagian mencari singkong, ada yang kebagian mencari gula merah, dll. Kami benar-benar kompak, padahal saat itu kalo dipikir-pikir usia kami baru menginjak  14 tahun bahkan ada yang 13 tahun. Kalo sekarang mungkin di usia segitu banyak komplain dan banyak ketakutannya.

Akhirnya hari itu tiba. Namun sayang 2 temanku Adam dan Fazri tidak bisa ikut, mereka tidak diberi izin oleh orang tuanya.

Pukul 17.00 kami pun berangkat dengan berjalan kaki, dipandu oleh kakak-kakak kelas kami. Kami terus berjalan kaki, berjalan berjalan dan berjalan. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat, menunaikan ibadah sholat dan makan. Hari sudah malam, namun kami terus saja berjalan kaki sambil menggendong ransel yang berat dan juga memegang sebuah tongkat. Aaaaa… mau di bawa kemana sih? Capeeee….. Tapi sayang kami tidak di beritahu.

Akhirnya aku sampai di sebuah desa yang namanya tidak asing tapi belum pernah ku kunjungi. Gilaa!! Jauh bener aku jalan kaki *geleng2kepala* ngga nyangka sampe sejauh ini. Nah disitu kami di ‘gembleng’ dan di beri bimbingan mental ‘bintal’. Bermacam-macam aku diberi pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar membuatku menjadi patung. Takut. Bibirku sulit sekali mengeluarkan suara.

Setelah itu kami di tugaskan untuk melewati kebun tebu yang sangat gelap, mana jalannya semak-semak lagi banyak rumput panjang. Udah gitu jalannya cuma berdua! :O ngga bareng-bareng sama yang lain. Ngga ada penerangan kecuali senter yang kami pegang.

Okeh! Aku bisa! Jangan takut sama yang macem-macem, kan ada Allah.

Sumpah itu perjalanan yang uuhhh menyeramkan! Kalo dipikir-pikir ngapain coba tengah malam jalan lewat situ dan tujuannya ngga jelas? Seperti pembodohan. Tapi sekarang setelah dipikirkan kembali ada manfaatnya juga, aku jadi ngga penakut. Jadi berani dan percaya Allah selalu ngelindungin aku.

Setelah sampai di pos pemberhentian. Akhirnya kami di tugaskan untuk berjalan (kali ini medannya lebih baik, tanah bebatuan). Tapi tidak lagi berpasangan, melainkan sendiri-sendiri!

Sepanjang perjalanan aku terus-terusan berdizikir. Ternyata aku melewati kuburan dan balai desa yang sudah tidak dipakai, dan ‘katanya’ di situ angker. Tapi sudahlah! Jangan berpikir yang macam-macam. Aku pun terus berjalan di kegelapan dan akhirnya menemukan sinyal cahaya sandi morse. Aku menuju ke arah sinar itu, lapangan sepak bola. Dan beberapa temanku sudah ada disitu.

“Wahh Mila udah nyampe, selamet juga ternyata. Hehe, sok istirahat dulu sambil nunggu yang lain sampai”, kata kak Yudi.

“Iya kak,” jawabku. Langsung saja aku meluruskan kaki yang sudah seperti tidak ada tulang. Lelah.

“Adik-adik, kakak mau ke pos sebelumnya, kalian diam disini ya.”

‘Ya kaaa… hati-hati”, jawab kami.

Nah, karena disitu tidak ada kakak kelas. Aku pun berinisiatif, “Eh, tidur aja yuk! Lumayan.. ngantuk banget tau..”. Blek, akupun tidur dengan hanya beralaskan rumput beratapkan langit yang bintangnya wow indah! Zzzzzzz.

Dan ternyata teman-temanku ikutan tidur! Sampai membuat kakak-kakak khawatir karena di tempat kami tidak ada cahaya ataupun orang. Ya karena kami tidur, jadi kan kalo dari kejauhan ngga keliatan ada orang. Hahahaa, ini aku ketahui ketika keesokan harinya. :p

Pukul 03.00 subuh kami melajutkan perjalanan, akhirnya aku tahu mau di bawa kemana kami. Jamberacak, salah satu bukit semi hutan yang ada di daerah itu.

Alhamdulillah… akhirnya sampai. Sesampainya disana aku merasakan kesejukan airnya. Asli dari gunung. Dan akupun mendapat hal baru, memasak telur rebus dengan di bakar. Telurnya di balut tanah liat sampai cukup tebal, kemudian di bakar deh! Masak nasinya juga sama, pakai bambu, bagian dalamnya dibersihkan kemudian masukkan beras dan air (saat itu kami menggunakan santan). Sumpal lubangnya dengan lempung (tanah liat), bakar deh! Hemm.. nikmatnya memasak dan makan di alam.

Setelah itu kami sharing materi dan kegiatan, lalu diadakan upacara pengukuhan. Huraayy!! Sekarang aku penggalang rakit!😀

Sampai sekarang aku masih ingat pengalaman-pengalamanku di Pramuka. Dari banyak kegiatan yang mendadak dan menguras mental itulah akhirnya karakterku terbentuk agar siap tanggap dan cepat dalam berpikir, pemberani dan kuat mental, dan tentunya selalu yakin ada Allah yang bersamaku.
Itulah salah satu ceritaku di Pramuka. Tetap memandu dan salam Pramuka! ^^7

DSC03090

Meskipun kini kami sudah berada di jalan masing-masing, namun persahabatan kami tetap abadi. My lovely Scout Community🙂